"Saat berada pada situasi tidak bisa membantu (memberi), ia seperti kapas terkena air, merasa lemah, seolah tidak punya harga."
Yayasan Bakti Putra Abadi lahir dari kegelisahan jiwa dan semangat seorang lelaki sederhana bernama Abdul Latif bin H. Sukandi bin Eyang Engkem bin Eyang Marwat bin Eyang Kelana (Kelam), yang selama ia hidup, dedikasinya pada upaya membantu masyarakat tidak diragukan lagi. Konsistensi perjuangan membangun masyarakat kampung agar berkemajuan begitu nyata terasa.
Perjalanan Hidup Abdul Latif
Kelahiran
Abdul Latif lahir di Kp. Batu Karut (sekarang bernama Randukurung) Desa Leuwigoong, yang saat itu masuk Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Diasuh Sang Nenek
Latif ditinggal ibunya (Ma Oceh) saat belum genap 10 tahun. Ia kemudian diasuh oleh nenek dari ibunya yang bernama Murtawiyah. Nenek ini mendidik Latif dengan disiplin tegas, keras, tetapi penuh kasih sayang berdasar nilai-nilai agama.
Menimba Ilmu
Selain sekolah formal, Latif juga mengaji di musholla dan pernah mondok di pondok pesantren Cijeler. Karena kondisi ekonomi, Latif hanya mampu menamatkan jenjang sekolah rakyat.
Memilih Jadi Pedagang
Selepas pesantren, Latif memutuskan memilih takdir hidupnya sendiri; menjadi pedagang. Dengan modal minimal dari simpanan sang nenek, ia memulai usaha pertamanya menjual barang pecah belah keliling dari kampung ke kampung.
Menikah dengan Nur'aeni
Di usia 20an, Latif menikah dengan Nur'aeni (Een), putri dari Bpk. Emen bin H. Antasik dan Ibu Iyum dari Kp. Babakan Paku Haji. Sehari setelah akad, Latif memboyong istrinya untuk tinggal bersama sang nenek.
Pedagang Sukses
Naluri dagang, jiwa penyayang dan kejujuran mengantarkan Latif menjadi pedagang besar; kain, peci dan pakaian, dengan ratusan pedagang ritel di bawah binaannya. Ia dikenal sebagai pedagang sukses yang dermawan, rendah hati dan sangat ramah.
Membangun Rumah & Anak Pertama
Pasangan muda itu berhasil membangun rumah mewah di jamannya. Kebahagiaan terasa lebih lengkap dengan hadirnya anak pertama, seorang laki-laki. Nenek Murtawiyah ikut diboyong ke rumah baru tersebut.
Yayasan Bakti Putra Abadi Didirikan
Putra-putri Abdul Latif meneruskan semangat membantu tanpa pamrih sang ayah dengan mendirikan Yayasan Bakti Putra Abadi secara resmi. Kamar tempat Murtawiyah wafat saat sujud sholat Ashar kini dijadikan ruang kelas.
Karakter Abdul Latif
"Latif kecil seorang anak penurut tanpa banyak menuntut. Latif muda seorang remaja yang giat bekerja tanpa banyak bicara. Latif dewasa seorang bapak yang berdedikasi tinggi pada keluarga dan masyarakatnya. Latif tua, sikap-sikap itu masih terlihat nyata."
Dermawan
Rendah Hati
Jujur
Ramah
Warisan Sang Pendiri
Putra-Putri Abdul Latif bin H. Sukandi mendapat warisan hebat dari Sang Bapak; semangat membantu tanpa pamrih, yang kemudian menjadi blueprint hati keluarga besar untuk menjawab kegelisahan dan meneruskan semangat perjuangan dari seorang lelaki sederhana.
"Aku Beribadah kepada Allah Dengan banyak memberI"