بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
"Aku Beribadah kepada Allah Dengan banyak memberI"
Sekapur Sirih
Yayasan Bakti Putra Abadi lahir dari kegelisahan jiwa dan semangat seorang lelaki sederhana bernama Abdul Latif bin H. Sukandi bin Eyang Engkem bin Eyang Marwat bin Eyang Kelana (Kelam), yang selama ia hidup, dedikasinya pada upaya membantu masyarakat tidak diragukan lagi. Konsistensi perjuangan membangun masyarakat kampung agar berkemajuan begitu nyata terasa.
Meski kini usianya tidak lagi muda, tetapi jiwa pejuangnya masih terlihat dari raut wajah dan tindakan hari-harinya, semangat membantunya masih terdengar dari getar nada bicaranya. Ia terus berjuang dan membantu; sendirian, tanpa pamrih, tanpa banyak bicara.
"Saat berada pada situasi tidak bisa membantu (memberi), ia seperti kapas terkena air, merasa lemah, seolah tidak punya harga."
Masa Kecil dan Pendidikan
Abdul Latif (biasa dipanggil Latif) lahir sekitar tahun 1950 di Kp. Batu Karut (sekarang bernama Randukurung) Desa Leuwigoong, yang saat itu masuk Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Latif ditinggal ibunya, Ma Oceh, saat ia belum genap berumur 10 tahun. Ia kemudian diasuh oleh nenek dari ibunya yang sudah renta tetapi penuh kharisma; bernama Murtawiyah.
Latif yang masih anak-anak, seperti pada umumnya anak-anak di jaman itu, selain sekolah formal ia juga mengaji di musholla bahkan ia pernah mondok di pondok pesantren Cijeler. Ia jalankan ritual menimba ilmu itu dengan sangat patuh tanpa perlu disuruh.
Dalam keseharian, Murtawiyah mendidik Latif kecil perilaku berdasar nilai-nilai agama dengan disiplin yang tegas, terkadang dengan sikap yang keras, tetapi penuh kasih sayang. Nenek tua itu berharap dan berkeyakinan, kelak cucunya itu akan menjadi laki-laki dewasa yang jujur, tangguh, mandiri dan bertanggungjawab, tetapi tetap memiliki jiwa penyayang.
Latif, bersama sang Nenek, menjalani hari-hari hidupnya dengan perjuangan berat penuh air mata. Karena kondisi, Latif kecil hanya mampu menamatkan jenjang sekolah rakyat. Selepas sekolah, ia pernah tinggal di Pesantren. Tidak lama di Pesantren, Latif yang masih belia memutuskan ke luar dan memilih takdir hidupnya sendiri; menjadi pedagang.
Perjalanan Usaha
Dagang adalah profesi rata-rata di kampungnya, selain bertani dan berkebun. Dengan modal minimal dari simpanan sang nenek, ia memulai usaha pertamanya dengan menjual barang pecah belah, yang ia jalankan dengan cara menjajakan dari rumah ke rumah, keliling dari kampung ke kampung.
Di usia 20-an Latif mendapatkan jodoh, Nur'aeni (biasa dipanggil Een) putri kedua dari Bpk. Emen bin H. Antasik dan Ibu Iyum; gadis kecil berparas cantik dengan suara merdu dari Kp. Babakan Paku Haji, yang saat itu masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah.
Tidak ingin merepotkan orang tua, sehari setelah akad, Latif memboyong istrinya untuk tinggal bersama sang nenek yang sebatangkara. Een yang masih berusia belasan tahun, dengan khidmat menerima didikan yang sangat ketat dan keras dari Sang Nenek; dari bagaimana cara mengatur urusan keuangan keluarga, bagaimana cara memasak berbagai penganan, bagaimana cara bersikap dan menyayangi saudara-saudara, bagaimana cara memuliakan tamu dan yang paling penting bagaimana cara melayani suami dengan sebaik-baiknya.
Kesuksesan dan Kepedulian Sosial
Bersama istri tercinta, yang dengan kesabaran tanpa batas dan keikhlasan tanpa celanya mendampingi, terus menguatkan usahanya. Naluri dagang, jiwa penyayang dan kejujuran yang melekat pada dirinya mengantarkan ia menjadi pedagang besar; kain, peci dan pakaian, dengan ratusan pedagang ritel di bawah binaannya yang loyal dan hormat.
Melalui usaha yang ia jalankan, ia banyak membantu masyarakat, khususnya masyarakat Desa Leuwigoong dan Cibiuk untuk mendapatkan kasab yang lebih baik. Saat itu, sekitar tahun 70 – 90-an awal, ia dikenal sebagai pedagang sukses yang dermawan, rendah hati dan sangat ramah.
Tahun 1975, pasangan muda itu berhasil membangun rumah, sebuah rumah mewah di jaman itu. Kebahagiaan di tahun 1975 itu terasa lebih lengkap dengan hadirnya anak pertama, seorang laki-laki, "Latif Junior."
Murtawiyah, nenek yang mengasuh dan merawatnya sejak kecil ia boyong ke rumah baru tersebut. Murtawiyah tinggal dengan bahagia bersama keluarga Latif muda sampai ia wafat saat sujud sholat Ashar di kamar depan yang sampai saat ini kamar itu masih dijadikan ruang kelas sejak rintisan SD dimulai pada tahun 2014.
"Latif kecil seorang anak penurut tanpa banyak menuntut. Latif muda seorang remaja yang giat bekerja tanpa banyak bicara. Latif dewasa seorang bapak yang berdedikasi tinggi pada keluarga dan masyarakatnya. Latif tua, sikap-sikap itu masih terlihat nyata."
Filosofi ABADI
Makna ABADI
Bakti Putra Abadi adalah nama yang disematkan pada Yayasan. Nama itu adalah trademark dari bakti seorang Abdul Latif bin H. Sukandi bagi keluarga dan masyarakatnya, yang saat ini dilanjutkan oleh putra-putrinya.
ABADI adalah akronim dari ABdul lAtif sukanDI
Juga merupakan akronim dari filosofi dasar perjuangan yayasan:
"Aku Beribadah kepada Allah Dengan banyak memberI"
Putra-Putri Abdul Latif bin H. Sukandi mendapat warisan hebat dari Sang Bapak; semangat membantu tanpa pamrih, yang kemudian menjadi blueprint hati keluarga besar untuk menjawab kegelisahan dan meneruskan semangat perjuangan dari seorang lelaki sederhana.
رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Rahmatan Lil'aalamiin"